Bahan Kimia Pada Plastik, Buat Anak Laki-Laki Lebih Feminin

NEW YORK (SuaraMedia News) – Berdasarkan penelitian terbaru yang dikeluarkan oleh International Journal of Andrology, dimana terpaparnya bayi sebelum lahir dengan bahan-bahan untuk melembutkan plastik yang sering digunakan dapat mempengaruhi perilaku bermain pada anak laki-laki di kemudian hari.

Penelitian baru ini, menambah pengetahuan pada penelitian sebelumnya pada hewan dimana rahim hewan yang terpapar bahan kimia ftalat dikaitkan dengan rendahnya produksi testosterone sehingga mengakibatkan terganggunya alat kelamin (fenomena ini dikenal sebagai sindrom PHTHALATE, yang dapat mempengaruhi perkembangan seksual pada hewan di kemudian hari).

Selain penelitian pada hewan, penulis utama dari riset ini, H. Shanna Swan, direktur Center for reproduksi Epidemiologi di University of Rochester, telah mempublikasikan penemuan sebelumnya pada manusia laki-laki dimana terdapat perkembangan yang sama terjadi seperti pada hewan. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dampak kurang baik, hubungan antara bahan kimia pada umumnya dengan produksi testosterone, hal ini dalam jangka panjang akan mempengaruhi identitas gender dan perilaku bermain anak-anak di kemudian hari.

“Perilaku bermain diteliti untuk membuat hipotesis (kesimpulan) bahwa terpaparnya phthalate selama kehamilan dapat mengubah diferensiasi seksual otak dan perilaku,“ tulis Swan dan rekannya.

Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti mulai meneliti dengan 334 wanita hamil, 150 di antaranya akhirnya berpartisipasi dalam semua tahap penelitian Midway melalui kehamilan, tingkat phthalate di antara wanita hamil yang diukur dengan menggunakan urine.

Empat sampai tujuh tahun kemudian, ketika para peserta anak-anak usia antara 3,6-6,4 tahun, para peneliti mengirim pertanyaan untuk menilai permainan anak-anak preferensi dan juga sikap orang tua melihat bagaimana anak-anak memilih untuk bermain.

Untuk menilai perilaku, para peneliti menggunakan sedikit versi modifikasi dari Pre-School Activities Inventory, penyaringan secara luas digunakan alat yang berkaitan dengan gender langkah bermain anak-anak kecil. (Banyak penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa ada preferensi bermain objektif yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan: laki-laki cenderung melakukan lebih banyak bermain-pertempuran, misalnya, anak perempuan cenderung lebih terpikat dengan boneka daripada mainan truk, dll).

Untuk menentuan bagaimana tingkah laku orang tua, orangtua mendapatkan pertanyaan–pertanyaan seperti, “Apa yang akan Anda lakukan jika Anda memiliki anak laki-laki yang lebih suka mainan yang biasanya dimainkan oleh  anak perempuan?”. Mereka diminta untuk menanggapi seberapa kuat orang tua akan mendukung atau menghambat perilaku seperti itu?

Berdasarkan penelitian, janin laki-laki yang terkena dosis tinggi plastik selama dalam kandungan memiliki lebih kecil kemungkinan bermain permainan ‘anak laki-laki’ seperti mobil-mobilan. Anak laki-laki juga tidak bersedia bermain permainan yang dianggap kasar.

Penelitian tersebut menambah bukti adanya gangguan hormon akibat bahan kimia yang terdapat pada produk rumah tangga. Senyawa ftalat yang terdapat dalam plastik menyerupai hormon seks wanita yakni estrogen. Hormon inilah yang menyebabkan adanya perubahan perilaku pada anak laki-laki.

Kombinasi kedua penilaian digunakan untuk mengukur jenis kelamin anak-anak bermain yang berhubungan dengan preferensi. Para peneliti menemukan bahwa, sementara, pada anak perempuan paparan phthalate hanya sedikit dampak signifikan pada perilaku, anak laki-laki, lebih tinggi tingkat eksposur yang berkorelasi dengan “kurang maskulin” preferensi.

Terlebih lagi, paparan varietas spesifik phthalate berkorelasi paling kuat dengan perbedaan perilaku, yaitu, di (2-ethylhexyl) phthalate atau DEHP dan dibutyl phthalate atau DBP.

Penemuan ini, kata peneliti, menunjukkan bahwa memang phthalate “memiliki potensi untuk memodifikasi perilaku laki-laki, yang berpotensi mencerminkan perubahan pada perkembangan otak.“

Pun, penelitian baru ini dapat menambah keprihatinan tentang bagaimana bahan kimia umum digunakan dimana bahan plastik, seperti bisphenol A, atau BPA, dapat mempengaruhi kesehatan kita menjadi buruk. (Sebuah studi baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction menemukan tingkat eksposur yang tinggi untuk BPA di kalangan pekerja pabrik Cina dikaitkan dengan disfungsi seksual).

Tentu saja, untuk memperkuat hipotesis tentang ftalat ini, para peneliti mengakui bahwa sample yang diambil masih relative sedikit dari populasi yang ada. Jadi berhati-hatilah memilih mainan plastik, jangan tergiur dengan harganya yang murah.

Ftalat digunakan untuk melunakkan plastik yang dipakai dalam peralatan rumah tangga seperti mebel plastik, sepatu, lantai dan tirai mandi dari PVC. Plastik juga bisa masuk ke makanan dan minuman dari kemasan plastik.

Penelitian yang dipimpin Shanna Swan, profesor kebidanan dan kandungan di Universitas Rochester di New York diterbitkan dalam International Journal of Andrologi. Prof Swan percaya bahwa bahan kimia mengurangi tingkat hormon seks pria, yaitu testosteron pada bayi yang belum lahir.

Bahan kimia itu pula yang mengubah perkembangan otak dan alat kelamin bayi laki-laki. “Kapasitas feminisasi ftalat telah membengkokkan gender,” katanya

Satu Tanggapan

  1. begitu ya? baru tahu..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: